Selamat Datang

Selamat datang dan selamat menikmati hidangan otak Anda. Blog ini khusus dirancang untuk Anda yang siap melahap dan mencari gizi-gizi buku yang bermakna.

Senin, 24 November 2008

Mengenal Surga Adam As

Judul Buku : Adam Tak Diusir dari Surga
Penulis : Agus Mustofa
Penerbit : Padma Press, Surabaya
Tahun terbit : Agustus 2007
Tebal buku : 256 halaman
Resentator : H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc

Setelah bukunya yang berjudul “Ternyata Adam Dilahirkan” mendapat respon dari kalangan pembaca, kini Agus Mustofa kembali mengarang buku yang masih bertemakan Nabi Adam as. dengan judul “Adam Tak Diusir Dari Surga”. Dan dengan terbitnya buku ini, Agus Mustofa kian jelas, kian menggugah dan kian berani menampilkan sosoknya: sebagi hamba Allah yang ingin serius “berkonsentrasi” meraih cinta Rabb-nya dengan murni dan sebagai manusia yang ingin membuktikan bahwa ilmu tasawuf dapat dipadukan dengan sains. Ikhtiarnya itu pun, ternyata, membuahkan hasil pemikiran baru yang diberinya nama dengan “Tasawuf Modern atau Pendekatan Tasawuf dalam Kekinian”.

Buku yang dicetak bulan Agustus 2007 ini, dapat dikatakan sebagai tanggapan terhadap penilaian masyarakat yang acapkali mensinyalir bahwa buah khuldi menjadi biang keladi turunnya Adam dan Hawa dari surga. Padahal Allah, di dalam al-Qur’an, tidak menyebut buah khuldi secara eksplisit dan hanya menyebutkan pohon tersebut sepintas lalu, tanpa menyebutkan nama. Bahkan, yang menamakan buah khuldi (buah keabadian) sendiri justru muncul dari istilah Iblis ketika merayu Adam dan Hawa untuk memakannya. Itu pun tidak secara eksplisit menyebut buah, melainkan disebut dengan syajaratul khuldi alias ‘pohon keabadian’.

Selain itu, buku ini juga akan memaparkan beberapa masalah yang masih menjadi kontroversi ‘hangat’ tentang Adam as. dan turunnya dari surga. Di antaranya, ketidakbenaran Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam; kenapa Iblis dilibatkan untuk bersujud kepada Adam, padahal dia bukanlah dari golongan malaikat; Adam dan Hawa bukanlah tinggal di surga yang disediakan Allah bagi orang-orang yang beriman di akhirat kelak.
Penciptaan Hawa
Cerita penciptaan Hawa yang berasal dari tulang rusuk Adam hanya ‘terungkap’ di dalam hadits Nabi Saw. Tapi, jika dicari sumber ayatnya di dalam al-Qur’an yang mengupas perihal diciptakan dari tulang rusuk Adam, mungkin, hanya mengarah kapada ayat-ayat yang bercerita tentang ‘diri yang satu’. Sedangkan penyebutan Hawa sebagai nama isteri Adam as. secara jelas, nyaris tidak disebutkan di dalam al-Qur’an. Menurut Agus Mustofa, pengarang buku ini, untuk menemukan apakah benar Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, haruslah diawali dengan pengumpulan dan pembacaan ayat-ayat al-Qur’an mengenai Adam dan isterinya, Hawa, secara kholistik.

Di dalam al-Qur’an, kata Agus Mustofa, Allah bercerita terlebih dahulu tentang Adam, para malaikat dan Iblis. Adapun Hawa, sebagai isteri Adam belum disebut-sebut. Bahkan sampai ketika Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam pun, keberadaan Hawa belum disebut. Keberadaan Hawa baru mulai disinggung ketika Allah memerintahkan Adam tinggal di surga, yaitu setelah memperoleh pengakuan dari para malaikat dan setelah dibangkang oleh Iblis yang tidak mau bersujud kepada Adam. Karena itu, sangat dituntut untuk menganalisa dengan jeli tentang ayat-ayat yang bercerita tentang nafsuun wahidah (diri yang satu) dengan cerita tinggalnya Adam dan Hawa di dalam surga.

Ayat yang selalu digunakan sebagai klaim bahwa Hawa diciptakan dari diri Adam as. adalah surat al-A’raaf: 189. Namun, menurut Agus Mustofa, ayat tersebut akan rancu jika dipahamkan sebagai penciptaan Hawa dari diri Adam as. ketika dilanjutkan dengan memahami ayat setelahnya. “Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan (Qs. Al A’raaf: 190). Hal ini akan menyebabkan lahirnya pertanyaan baru, benarkah suami isteri itu adalah Adam dan Hawa? Benarkah mereka berdoa untuk memperoleh keturunan yang sempurna, dan setelah dikabulkan mereka mempersekutukan Allah? Nyaris tak ada satu keterangan pun yang mensinyalir bahwa pasangan suami isteri yang menyekutukan Allah itu adalah Adam dan Hawa.

Sedangkan menurut sains, “diri yang satu” adalah stem sel, yang kemudian membelah dan membentuk proses penciptaan manusia di dalam rahim. Sehingga, Agus Mustofa menyimpulkan bahwa distorsi pemahaman tentang hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam itu agaknya terkait dengan asal-usul stem sel yang terpancar dari tulang sulbi. Tapi, tetaplah bahwa Hawa bukan diciptakan dari diri Adam alias dari tulang rusuk Adam. Lantas, bagaimana penciptaan Hawa dan siapa orang tuanya? Dalam buku ini, Agus Mustofa menguraikannya dengan jelas.(hal. 65-75)

Iblis Bukan Malaikat
Setelah Allah membuktikan kecerdasaan Adam dengan diberi ilmu pengetauhan dan mudah menguasainya, Allah kemudian memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam, sebagai bentuk pengakuan dan penghormatan kepada seorang khalifah (Qs. Al-Baqarah 34). Namun, ada kejadian menarik dalam peristiwa sujudnya para malaikat kepada Adam yaitu, pembangkangan Iblis. Ayat ini menimbulkan peristiwa terkesan agak ‘aneh’. Karena tidak ada perintah langsung dari Allah kepada Iblis untuk bersujud, tapi di dalam ayat-ayat selanjutnya selalu dikatakan bahwa Iblis tidak mau bersujud dan dinobatkan sebagai pembangkang. Apakah Iblis termasuk golongan malaikat? Menurut Agus Mustofa dalam buku ini, ayat-ayat ‘perintah dan pembangkangan’ tersebut memberikan makna tersirat bahwa Iblis memang bukan malaikat. Karena itu, ia tidak termasuk yang diperintahkan Allah secara langsung untuk bersujud. Ia hanya diperintahkan secara tidak langsung, sebagaimana mahluk lainnya. (hal 121-124)

Mengenal Surga Adam AS
Di dalam al-Qur’an, Allah menceritakan bahwa Adam dan Hawa tinggal di dalam surga. Setelah mereka terbujuk rayuan Iblis, baru mereka disuruh turun ke bumi. Menurut pendapat mayoritas, bahwa surga yang dulu dihuni oleh Adam as. dan isterinya adalah surga yang kelak akan dirasakan kembali oleh orang-orang yang beriman di akhirat kelak. Namun Agus Mustofa berpendapat lain. Menurutnya, surga yang dihuni Adam as. bukanlah surga yang akan dinikmati orang-orang yang beriman di akhirat kelak. Jannah (surga) Adam berbeda dengan jannah (surga) yang dijanjikan Allah untuk orang beriman. Di dalam buku ini, Agus Mustofa menjelaskan ada 4 hal yang membedakan jannah (surga) Adam as. dengan jannah (surga) yang dijanjikan Allah kepada para hambanya yang beriman:
1. Kata jannah tidak selamanya hanya memiliki arti surga. Jannah juga dapat diartikan sebagai taman. Karena Allah seringkali menggunakan kata jannah untuk menggambarkan situasi yang penuh kenikmatan, seperti dalam surat al-Qalam: 17, “Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (orang kafir Mekah) sebagaimana kami telah menguji pemilik-pemilik kebun (jannah), ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasilnya) di pagi hari”. Karena itu, Agus Mustofa berpendapat bahwa pemakaian kata jannah sangat berkaitan dengan situasi wilayah Timur Tengah yang sangat panas, gersang dan sulit air. Sehingga kata ‘taman’ sangat mewakili.
2. Kata jannah yang digunakan untuk peristiwa nabi Adam di dalam al-Qur’an hanya dimaknai dengan ‘taman’ yang dilengkapi makanan yang serba berkecukupan untuk kebutuhan hidup. Sedangkan jannah akhirat digambarkan lebih komplek lagi. Misalnya, surga di akhirat nanti ada bidadari, sedangkan yang di jaman nabi Adam tidak ada. Surga di akhirat nanti digambarkan ada minuman dari sungai madu, susu, khamar dan kafur, sedangkan di jaman nabi adam itu tidak ada. Demikian juga halnya fasilitas yang dijanjikan Allah di surga akhirat berbeda dengan fasilitas yang dirasakan Adam as beserta isterinya.
3. Perbedaan itu juga tampak dari keberadaan Iblis. Di jaman Nabi Adam, setan bisa berkeliaran memasuki jannah. Dan kemudian menggoda Adam dan Hawa, akan tetapi, di akhirat kelak, setan dijamin tidak bisa masuk jannah, karena. tempat mereka adalah neraka.
4. Perbedaan terakhir, jannah di akhirat diberikan sebagai ‘balasan’ atas segala amalan manusia di dunia ini. Sedangkan jannah nabi Adam adalah ‘fasilitas’ kehidupan dalam taman indah berisikan makanan serba berkecukupan dan pakaian yang disediakan untuk kebutuhan hidup Adam dan Hawa. (hal.154-155)
Komentar
Setelah membaca buku ini, saya mengakui kecermelangan cara berfikir Agus Mustofa dalam mengungkap hal-hal yang cukup mesterius, atau bahkan mungkin hal yang tabu dan ‘jarang’ menjadi pikiran kita untuk dibahas. Tapi, tetap saja saya masih memiliki komentar terhadap buku ini. Pertama, Dimanakah jannah Adam saat ini? Apakah sudah fana? Karena hal ini akan semakin misterius ketika Agus Mustofa mensinyalir bahwa jannah Adam ada di bumi ini. Kedua, Mengapa Adam baru memiliki keturunan setelah ia dan isterinya ‘disuruh’ turun ke dunia? Bukankah kehidupan Adam dan Hawa di jannah memiliki waktu yang relatif cukup lama? Ketiga, Akan lebih maksimal jika Agus Mustofa memberikan sarana buat para pembaca, baik alamat email maupun berbentuk mailing list. Fungsinya, agar para pembaca yang memiliki beragam pertanyaan dapat menemukan jawaban dari penulis secara langsung, tanpa lama-lama ‘meraba’ untuk menemukan jawabannya. Sehingga buku seri Diskusi Tasawuf modern yang digagas Agus Mustofa ini semakin maksimal dan dapat dinikmati dengan baik.

Karena itu, saya merekomendasikan Anda untuk membaca buku ini, karena menurut saya buku ini sangat layak dibaca, tidak hanya untuk kalangan para intelektual muslim dan para ustadz tapi juga untuk masyarakat umum.

H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc, kontributor artikel resensi buku situs penulislepas.com dan sinaimesir.com

Jumat, 21 November 2008

Kiat Jitu Praktik Marketing Rasulullah

Judul : Marketing Muhammad: Strategi Andal dan Jitu Praktik Bisnis Nabi Muhammad saw
Penulis : Thorik Gunara dan Utus Hardiono Sudibyo
Penerbit : Madania Prima, Bandung 2007
Tebal : Xii + 157 halaman

Sudah menjadi rutinitas, bahwa setiap tanggal 12 Rabiul Awal umat Islam memperingati hari kelahiran Rasulullah Saw. Rutinitas tersebut acapkali ‘dihiasi’ dengan mengenang beragam peristiwa yang terjadi di masa kelahiran Nabi Muhammad Saw. hingga masa ‘kegemilangannya’ menjadi rasul Allah. Agaknya, di antara peristiwa yang urgen untuk direnungkan dan dijadikan pelajaran, saat ini, adalah mempelajari bagaimana praktik bisnis Muhammad Saw. disaat muda atau ketika ia belum diangkat menjadi rasul Allah. Pasalnya, trend berbisnis saat ini kian marak dan kian meningkat.

Menurut literatur sejarah Islam, Nabi Muhammad Saw. sejak kecil sudah membiasakan diri untuk hidup mandiri dan berwirausaha, yang diawali dengan mengembala kambing milik Bani Sa’ad. Kemandiriannya muncul bukan karena ia miskin. Sejatinya, Muhammad Saw. hidup ditengah keluarga yang berkecukupan. Bahkan, keluarga ayahnya terkenal sebagai pembesar suku Quraisy, sehingga tidak diragukan lagi kesejahteran hidupnya.

Setelah sukses berniaga di negara sendiri, pada usia dua puluh lima tahun Muhammad ingin membuktikan bahwa ia bukan hanya ‘jago’ berbisnis di daerah sendiri, tapi juga dapat berbisnis diberbagai negara. Riwayat bisnisnya tersebut dimulai tatkala Khadijah mendengar kabar tentang kejujuran perkataan, kredibilitas dan kemulian akhlaknya. Hingga Khadijah pun mengirim utusan dan menawarkan Muhammad bin Abdullah agar berangkat ke Syam (baca; Syria dan Libanon) untuk memasarkan barang dagangannya.

Brand image muhammad yang memiliki akhlak mulia, jujur dan terpercaya menjadi ‘sinyal’ kuat untuk menjustifikasikan bahwa ia adalah pebisnis sukses yang belum pernah dicapai manusia sebelum dan sesudahnya. Buku “Marketing Muhammad: Strategi Andal dan Jitu Praktik Bisnis Nabi Muhammad saw” akan membuktikan bahwa aneka teori kesuksesan marketing yang dicetuskan Barat, sejatinya sudah dilakoni Muhammad saw. Bahkan, buku ini juga dapat dikatakan sebagai kritikan untuk buku “The Corporate Mystic” yang dikarang Gay Hendriks dan Kate Ludeman, yang menyatakan bahwa para pengusaha sangat penting untuk menjauhkan dirinya dari teologi dan kepercayaan spritualisme yang sangat berpotensi memecah belah, dan hanya boleh memetik manfaatnya, jika dijamin menguntungkan dan terpadu dengan teori-teori yang ada.

Penulis buku ini, Thorik Gunara dan Utus Hardiono Sudibyo, membagi isi buku menjadi lima bagian: mind share, market share, heart share, shoul share dan shoul marketing. Kelima bagian ini merupakan teori umum dalam dunia marketing untuk memasarkan produk. Akan semakin membuat takjub, ternyata teori-teori yang selalu digemborkan Barat sudah lebih dahulu direalisasikan Muhammad Saw.. Strategi mind share misalnya. Dalam strategi ini tercakup proses segmenting (cara membagi pasar berdasarkan variabel-variabel yang ada seperti geografi, prilaku dll), targeting (proses pemilihan target dan mencocokkan reaksi pasar dengan kebutuhan dasar) dan positioning (langkah menempatkan produk dalam benak customer).

Dalam musnad Ahmad dicatat, bahwa Muhammad saw. pernah memasarkan market Khadijah di komunitas penduduk Bahrain, tepatnya di pasar Mushaqqar. Yang cukup menarik, kebiasaan Muhammad sebelum melakukan segmentasi, ia terlebih dahulu mengenal market, sehingga mendapatkan detail konsumen yang diperlukan untuk melakukan proses segmentasi. Pola pikirnya yang menginspirasikan one on one marketing, jelas merupakan hal yang sangat mudah untuk memasarkan produk. Ia tidak hanya akan dapat menjual, tetapi juga dapat mendekatkan diri dengan konsumen. Hingga akhirnya ia dapat menggali hal-hal yang menjadi kebutuhan dan keinginan konsumen. Dalam proses targeting, Muhammad menggunakan sistem one brand for all. Yaitu, denga menggunakan sifat al-‘amin (jujur) sebagai piranti sistem one on one marketing hingga ia mampu menyentuh individu konsumen. Ia tidak hanya berbisnis dengan kalangan raja tetapi juga dengan rakyat biasa. Dan dengan menggabungkan dua sistem di atas, Muhammad dengan mudah menentukan positioning. Ia tidak pernah mengalami pertengkaran dan perdebatan dengan konsumen dalam menentukan harga, bahkan konsumen kian percaya saat ia selalu tepat janji dalam mengantar barang-barang yang kualitasnya telah disepakati antara keduanya. Akhirnya, produk yang ingin dipasarkan benar-benar ‘terpotret’ dalam benak customer dan tak ada rasa kecewa sedikitpun. Bukan hanya itu, ketagihan konsumen untuk membeli market yang dijualnya pun kian meningkat.

Intinya, penulis ingin ‘menyematkan’ di benak pembaca, bahwa ada lima konsep yang diajarkan Rasulullah dalam melakukan bisnis: jujur, ikhlas, profesional, silaturrahmi dan murah hati. Apabila kelima konsep tersebut diaplikasikan akan melahirkan kepercayaan. Karena sebuah hubungan silaturrahmi yang dilandasi sikap murah hati oleh seorang profesional yang jujur dan ikhlas akan menghasilkan Trust (kepercayaan). Kalau sudah trust, loyalitas akan terlahir dengan sendirinya.

Selain itu, point lain yang didapat dari buku ini. Penulis sengaja memperkenalkan kehebatan, kekurangan dan bahkan kesalahan konsep yang dilakukan beberapa perusahan di dunia untuk menarik simpati customer. Misalnya perang tarif murah telepon dan sms yang terjadi antar operator telepon seluler di Indonesia. Menurut penilaian penulis, keterlibatan dalam fenomena perang tersebut menunjukkan kurang profesionalnya perusahaan. Karena customer bukanlah masyarakat yang buta dengan dunia perdagangan. Sudah pasti yang akan dipilih dan dicari pelanggan tetaplah yang dapat memberikan dan menjamin kenyamanan dalam berkomunikasi juga memiliki jaringan luas. Bahkan kepercayaan dan profesionalisme perusahaan yang menjadi operator tetap menjadi point utama customer. Dapat diteliti, bahwa customer yang tergiur dengan tarif murah operator hanyalah masyarakat kecil, yang sejatinya tidak begitu memberikan ‘untung’ banyak bagi perusahaan. Adalah lazim yang diincar pebisnis marketing, bagaimana membuat pelanggang semakin sering menggunakan jasa dan market. Bukan malah membuat perusahan kian terpuruk dikarenakan tak mampu mendapatkan target yang diharapkan.

Maka tak salah, bila Uken Juneidi, S.E. Ak, President Business Development Salamadani, memberi komentar terhadap kecerdasan penulis yang berhasil memaparkan strategi Rasulullah Saw. dalam dunia pemasaran, yang juga dilengkapi dengan kajian bagaimana pemasaran dilakukan dengan dasar akhlak yang baik dan strategi yang jitu. Maka, buku Martekting Muhammad Saw. ini sangat penting untuk dibaca oleh semua kalangan, terutama yang memiliki jiwa dagang. Insya Allah dengan membaca buku ini akan memberikan pencerahan bagaimana berbisnis yang sehat, halal dan baik.

Rahmat Hidayat Nasution, Pencinta buku-buku Indonesia Keagamaan

Menumbuhkan Kecintaan Anak Terhadap Al-Qur'an

Judul : Agar Anak Mencintai Al-Qur’an
Pengarang : Dr. Sa’ad Riyadh
Penterjemah : H. Yasir Maqashid, Lc
Penerbit : Pustaka Al-Kautsar, Jakarta
Tahun Terbit : Agustus 2008
Halaman : 120 Halaman

Buku ini mencoba memberikan bimbingan kepada orang tua maupun pendidik bagaimana merangsang dan menumbuhkan kecintaan anak terhadap al-Qur’an dengan sangat menakjubkan. Dengan bahasa yang ringan, Dr. Sa’ad Riyadh memaparkan metode-metode baru dan diprediksikan akan sangat berhasil membuat anak bisa mencintai al-Quran. Tidak hanya itu, beberapa trik yang dipaparkan juga mampu membimbing anak untuk semangat menghapal al-Qur’an.

Selain itu, penulis juga tak luput memberikan beberapa evaluasi ringan untuk pendidik di akhir setiap bab. Evaluasi tersebut sangat berkaitan sekali dengan kemampuan pendidik dalam menanamkan kecintaan anak-anak terhadap al-Qur’an, sehingga mampu membuat mereka suka membaca al-Qur’an dan semangat untuk menghapalnya. Dalam ranah pendidikan, ini menjadi bukti bahwa kesuksesan anak didik dalam menguasai materi sangat bergantung dengan kemampuan pendidik.

Dengan format panjang-lebar 13,5 x 20,5 cm, buku ini dibagi menjadi empat pasal. Pasal pertama mengurai secara tuntas mengenai kemampuan mendidik dan kaitannya dengan keharmonisan antara anak dan al-Qur’an. Dalam hal ini, yang menjadi titik sentral terciptanya keharmonisan anak dengan al-Qur’an adalah keluarga. Menurut Dr. Sa’ad, keluarga harus menjadi contoh teladan bagi anak yang diamanahkan Allah Swt. Keteladanan itu dapat dibentuk melalui rajin berinteraksi dengan al-Qur’an, aktif membunyikan kaset-kaset al-Qur’an yang dibacakan oleh para imam yang masyhur, dan mampu mengaplikasikan pesan-pesan yang terkandung di dalam al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Keteladan ini akan menjadi bekal contoh bagi anak untuk dapat mencintai al-Qur’an.

Sudah jamak diketauhi, bahwa tingkat pemahaman dan cara penghapalan anak-anak sangat tergantung dengan usia. Maka, usia anak untuk mencintai al-Qur’an juga menjadi pertimbangan. Dalam pasal dua, Dr. Sa’ad membeberkan beberapa metode agar anak usia dini mampu mencintai al-Qur’an. Metode tersebut sangat berkaitan dengan kepandaian pendidik. Menurut penulis ada 8 metode: mempersiapkan cerita atau dongeng yang isinya masih mengandung isi mencintai al-Qur’an, menampilkan sifat sabar dalam menghadapi anak, menggunakan metode terkini dalam mengajar seperti membuat game yang berisikan ayat-ayat al-Qur’an, memahami perbedaan kepribadian anak didik, selalu menceritakan kisah-kisah yang ada di dalam al-Qur’an, menyanyikan dan mengajari anak didik nasyid-nasyid yang isinya mencintai al-Qur’an, menjuahi hukuman fisik maupun mental namun tak lupa memberikan penghargaan kepada anak didik yang berhasil menghapal surat pendek misalnya, dan terakhir rajin menyebutkan semboyan yang mengandung arti cinta al-Qur’an, seperti saya mencintai al-Qur’an, al-Qur’an itu Kalamullah dll.

Demikian halnya juga dalam pasal tiga yang mengupas tentang mendidik anak didik yang berusia 6-12 tahun, penulis memberikan metode ringan namun cukup membuktikan agar anak cinta al-Qur’an, misalnya dengan menampilkan kisah-kisah dan keajaiban alam yang menunjukkan kemukjizatan al-Qur’an dalam bentuk visual seperti menonton melalui VCD.

Dan dalam pasal empat, Dr. Sa’ad membahas langkah-langkah yang tepat untuk menumbuhkan kecintaan anak didik yang lagi puber atau berusia 12 hingga dewasa terhadap al-Qur’an. Anak yang berusia seperti ini biasanya lebih banyak menggunakan akalnya. Karena itu, salah satu metode yang tepat untuk mereka adalah dengan aktifnya mengadakan dialog tentang isi al-Qur’an. Dialog yang membuat mereka berfikir tentang keagungan al-Qur’an. Di samping itu, tak lupa pula menjelaskan tentang faedah al-Qur’an.

Setelah memperhatikan materi-materi yang dikupas penulis, saya merekomendasikan kepada para orangtua dan guru-guru mengaji untuk membaca dan menjadikan buku ini sebagai pedoman. Karena menurut saya, metode yang ditawarkan penulis sangat cocok dan sesuai dengan kondisi saat ini. Buku ini memang layak dibaca.

H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc., Guru Islamic International School Darul Ilmi Murni (IIS-DIM) Medan dan Mts Swasta Muallimin UNIVA Medan

(Artikel ini sudah dimuat di Harian Analisa Medan pada 14 Nopember 2008)

Senin, 17 September 2007

Mempersiapkan Diri Meraih Keberuntungan

Judul : Fortune Favors The Ready!

Penulis : Hery Wibowo

Penyunting : Anita Khairunnisa dan Dede Aditya Kaswar

Penerbit : OASE Mata Air Makna, Bandung

Tahun Terbit : Januari 2007, Cetakan I

Tebal : 180 Halaman

"Dahsyat!!! Buku ini merupakan KEBUTUHAN ESENSIAL generasi muda dan siapa saja yang bertekad untuk menjadi sebaik mungkin dalam memperjuangkan KUALITAS PRIBADI, kepemimpinan, dan HIDUP yang bermakna." Demikianlah komentar bung Jimmy, fasilitator MHMMD yang terletak di cover belakang bagian buku.


Komentar tersebut cukup beralasan. Karena buku yang ditulis Hery Wibowo, trainer muda potensial ini, memang, cukup berbeda dengan buku-buku pengembangan diri lainnya yang umumnya berisi teori-teori yang njlimet, yang sukar untuk diterapkan. Buku ini memang menawarkan kiat-kiat sederhana namun efektif untuk memperbesar peluang siapa saja yang ingin meraih kesuksesan. Maka tak salah bila yang disarankan membaca buku ini bukan saja entrepreneur, tapi juga manajer, mahasiswa, fresh gruaduate, karyawan, pemimpin perusahan, pelajar dan masyarakat umum.


Fortune Favors The Ready karya Hery Wibowo ini menyadarkan pembaca akan keberadaan kesempatan yang membuka peluang bagi kebangkitan kualitas hidup. Tentu saja bukan kesempatan itu yang membuat manusia bangkit, tetapi melalui kemampuan menangkap kesempatan tersebut manusia harus membekali diri dengan cara memanfaatkan dan memberdayakan seluruh potensi diri yang positif dengan berbagai kiat praktis. Kiat praktis itu dikupas Hery Wibowo dalam bukunya ini dengan komprehensif namun dengan gaya popular, sehingga mudah dan asyik untuk dicerna oleh para pembaca.


Buku yang memiliki tebal 180 halaman ini dibagi penulis menjadi delapan langkah. Dimulai dengan mengenal potensi diri, memahami citra diri, menemukan kepribadian, menumbuhkan kepercayaan diri, menjadi diri sendiri, membuka saluran komunikasi, memiliki sikap asertif dan terakhir melakukan lobi. Melalui rangkaian keurutan bab tersebut, Hery Wibowo membawa pembaca untuk secara runut mengikuti kiat praktis yang membuka peluang bagi peningkatan kepekaan terhadap kesempatan yang seyogyianya diraih.


Kekurangan buku ini hanya dari sisi tidak ditulisnya berapa panjang dan lebar buku. Iya, sekilas ini tidak penting. Tapi, buat masyarakat yang biasa membeli buku lewat jasa internet, panjang buku dan lebarnya menjadi pertimbangan. Apakah buku ini termasuk jenis buku saku atau jenis buku umum lainnya? Apakah buku ini miliki panjang dan lebar yang tepat dan cocok atau buku ini memiliki panjang yang kurang sesuai dengan lebarnya? Karena itu, panjang dan lebar buku tetap menjadi perhatian.


Akan tetapi, kekurangan di atas tidak mengurangi dan mempengaruhi ide utama dari penulisan buku ini. Bahkan, dapat dikatakan buku ini bisa dikategorikan sebagai penjelasan dari pepatah yang manyatakan, keberuntungan hanya berpihak kepada orang-orang yang siap. Maka siapkanlah diri kita untuk 'mengeruk' keberutungan dengan mempelajari buku ini.

Selamat membaca!

Rahmat Hidayat Nasution,Lc. kontributor tulisan hikmah Cyber MQ.com

Jumat, 06 Juli 2007

Membongkar "Borok" Kesesatan JIL dan Ahmadiyah

Judul buku : Pluralisme Agama: Fatwa MUI yang Tegas dan Tidak Kontroversial
Penyunting : Adian Husaini, MA
Penerbit : Pustaka al-Kautsar, Jakarta
Tahun terbit : 2005
Tebal buku : 132 halaman
Resentator: Rahmat Hidayat Nasution


Ternyata, Indonesia saat ini sedang dihadapi dua musibah besar. Yaitu musibah akan meletusnya gunung merapi dan musibah “meletusnya” kembali “gaung” jaringan Islam Liberal. Tepatnya pada tanggal 17 April 2006, Dawam Raharjo dan teman-temannya melakukan demo terhadap menteri Agama RI, Maftuh Basuni dengan menggunakan jargon Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Keyakinan, untuk mencabut pernyataanya tentang sesatnya ajaran Ahmadiyah dan meminta maaf secara terbuka melalui media cetak dan elektronik.
Akting Dawam Raharjo pada saat ini hampir sama dengan akting yang diperankan Gus Dur dan kawan-kawan ketika menolak Fatwa MUI tentang sesatnya paham Ahmadiyah dan pelarangan pemahaman pluralisme agama, sekulerisme, dan liberalisme. Hanya bedanya, pada “episode” kali ini, Dawam Raharjo dan teman-temannya selain mengeluarkan tiga somasi, juga ada sedikit “nada” pengancaman terhadap Menteri Agama RI jika tidak menanggapi tuntutan mereka, maka skenario selanjutnya yang mereka tampilkan adalah menempuh jalur hukum. Sekalipun demikian, lakon kali ini, sebenarnya, hanya bertukar judul saja dengan apa yang terjadi pada Gus Dur dan kawan-kawannya terhadap fatwa MUI Juli 2005.

Maka, cukup tepat sekali kebijakan yang dilakukan Menteri Agama RI untuk tidak akan mengajukan permintaan maaf terhadap jamaah Ahmadiyah, dan tidak mundur selangkah dalam menghadapi tekanan-tekanan di atas. Dengan slogan “Maju terus pantang mundur” kayaknya Menteri Agama RI sudah siap menghadapi mereka. Apalagi, didukung olehFront Penanggulangan Ahmadiyah dan Aliran Sesat (FPAS).
Itulah polemik yang tengah “meletus” pada saat ini. Adapun kewajiban kita sebagai muslim Indonesia saat ini adalah membantu Menteri Agama RI dari bahaya “letusan” yang dihembuskan oleh jaringan Islam Liberal. Caranya, dengan mengenal “borok” paham Islam liberal sendiri. Sebuah buku yang tebalnya 132 halaman dengan lebar 20,5 cm dengan data-data akurat dan analisa yang kritis telah memaparkan bebarapa “borok” jaringan Islam liberal. “Pluralisme Agama: Fatwa MUI yang Tegas dan Tidak kontroversial” adalah judul bukunya.

Memang, bila dilihat buku ini merupakan “bayan” untuk menjelaskan fatwa MUI dalam munasnya yang ke-7 pada 25-29 Juli 2005, namun buku ini laik sekali untuk kita baca dalam memahami “borok-borok” yang terdapat dalam Jaringan Islam liberal dan menggugat kembali somasi yang dikeluarkan Dawam Raharjo. Karena, somasi-somasi yang dihaturkan Dawam Raharjo dan teman-temannya tidak berbeda jauh dengan apa yang dilakukan Gus Dur dulu. Jadi, dengan memahami buku ini, akan dapat menilai benarkah Menteri Agama RI, Maftuh Basyumi salah dalam mengeluarkan pendapatnya? Dan apakah benar Dawam Raharjo benar-benar telah menjadi manusia pluralis atau hanya mengaku-ngaku manusia pluralis saja?

Adian Husaini, MA sebagai penulis tak ragu-ragu mengeluarkan data-data dan analisanya yang kritis terhadap kelompok Jaringan Islam Liberal. Sebelum menjelaskan “borok-borok” yang terdapat dalam Jaringan Islam Liberal, kata sambutan dari buku ini ditulis oleh Anis Malik Thoha, PhD, Dosen Perbandingan Agama di Universitas Islam International Malaysia. Dalam kata sambutannya, Anis Malik Thoha membeberkan sejarah munculnya wacana pluralisme agama yang ada pada awal abad ke-20 yang dilakonkan oleh seorang teolog Kristen Jerman bernama Ermst Troeltsch. Juga, dalam kata sambutan itu dijelaskan dua kelemahan mendasar yang terdapat dalam paham pluralisme agama, yaitu pertama, kaum pluralis mengklaim bahwa pluralisme menjunjung tinggi dan mengajarkan toleransi, tapi justru mereka sendiri yang tidak toleran karena menafikan “kebenaran ekslusif” sebuah agama. Kedua, Adanya “pemaksaan” nilai-nilai dan budaya Barat (westernisasi), terhadap negara-negara belahan di dunia bagian Timur, dengan berbagai bentuk dan cara.

Dalam buku ini, penulis tak hanya membahas pro-kontra fatwa MUI saja. Juga membahas tentang Pluralisme Agama dan Dampaknya, Menjawab Propaganda Pluralisme, Ekslusivitas Islam dan The Da Vinci Code Problema Teologi Kristen, dan Pluralisme Agama.

Dalam Sub bab Koalisi Liberal-Ahmadiyah Vs MUI, Adian Husaini mencoba menampilkan visualisasi keprihatinan Aliansi Masayarkat Madani atas larangan dan tudingan sesat terhadap Ahmadiyah. Dawam Raharjo juga menjadi salah satu anggota aliansi tersebut, dan komentarnya pada waktu itu nyaris tak jauh berbeda dengan apa yang dituduhkannya kepada Maftuh Basyumi saat ini. Dawam Raharjo menilai bahwa MUI justru menjadi sumber konfilk agama dan tidak menghargai hak asasi manusia. Penilaiannya itu selaras dalam somasi kedua dan ketiga yang diajukannya kepada Menteri Agama RI, Maftuh Basyumi.

Selanjutnya, Adian Husaini menyuguhkan kepada pembaca tentang pluralisme agama dan dampaknya. Dalam bab ini, Adian Husaini “membeberkan” kepada pembaca bahwa ide persamaan agama yang digaungkan oleh kaum pluralis di Indonesia saat ini, sebenarnya benih-benihnya sudah ditabur sejak zaman penjajahan Belanda dengan merebaknya ajaran kelompok Theosofi. Bahkan, pada tahun 1970-1980-an sempat muncul gagasan pendidikan panca Agama di sekolah-sekolah. Tetapi tokoh-tokoh umat ketika itu beraksi keras dengan melakukan berbagai macam protes, sehingga program itu digagalkan. Di antara salah satu tokoh umat Islam yang tampil membantah keras ide persamaan agama itu adalah Dr. Rasjidi dalam bukunya “Empat Kuliah Agama di Perguruan Tinggi”. (hal. 33-34).

Pada bab selanjutnya, Adian Husaini memberikan jawaban terhadap Ide pluralisme agama dengan mengajak pembaca berfikir, apakah bisa tauhid bersandingan dengan syirik? Sebagaimana dipahami bahwa pluralisme agama adalah suatu paham yang melegitimasi dan mendukung kekufuran dan kemusyrikan, sedangkan Islam adalah agama yang benar-benar memurnikan Allah dari perbuatan syirik atau agama yang benar-benar mentauhidkan Allah, “ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa selain dari itu, bagi siapa yang dikehendakinya. Barangsiapa yang menyekutukan Allah, maka sungguh ia telah melakukan dosa yang sangat besar.” (QS. An-Nisa’: 48). Dengan ayat ini, sudah jelas bahwa Allah sangat murka dengan kemusyrikan, sedangkan pluralisme agama melegitimasi segala jenis kemungkaran dan kemusyrikan. Pluralisme agama jelas membongkar Islam dari konsep dasarnya. Tidak ada lagi konsep mukmin, kafir, syirik, surga, neraka dan sebagainya. Karena itu mustahil paham pluralisme dapat hidup berdampingan secara damai dengan tauhid Islam. (hal.83-84)

Selain itu, Adian Husaini juga membongkar “borok” yang terdapat dalam aliran Ahmadiyah. Dalam konsepsi Ahmdiyah, tulis Adian, tentang kenabian Mirza Ghulam Ahmad dan tentang wahyu, misalnya, jelas-jelas telah mengorupsi konsep dasar Islam tentang kenabian. Mirza mengucapkan, “Dalam wahyu ini Tuhan menyebutkanku Rasul-Nya, karena sebagaiman sudah dikemukakan dalam Bahrain Ahmadiyah, Tuhan Maha Kuasa telah membuatkan manifestasi dari semua nabi, dan memberiku nama mereka. Aku Adam, aku Seth, aku Nuh, aku Ibrahim, aku Ishaq, aku Ismail, aku Ya’kub, aku Yusuf, aku Daud, aku Musa, aku Isa, aku adalah penjelmaan sempurna dari Nabi Muhammad Saw., yakni aku adalah Muhammad dan Ahmad sebagai refleksi.” Ajaran seperti ini jelas telah menggerogoti ajaran agama Islam yang asli dan setandar. Oknum-oknum internal seakan-akan mengajarkan Islam, padahal mengajarkan ajaran palsu yang jelas-jelas diluar standar Islam itu sendiri. (hal. 93)

Buku ini penting bukan hanya bagi mereka yang menggeluti pemikiran Islam dan para dai muslim Indonesia, tetapi juga penting bagi masyarakat awam yang ingin mengetauhi letak-letak kesalahan paham pluralisme. Minimal bisa membantu khazanah keislaman kita agar tidak terjebak dalam konsep pluralis.

Senin, 25 Juni 2007

Menjadi Cerpenis dalam Hitungan Jam

Judul : 24 Jam Jagoan Menulis Cerpen
Penulis : Donatus A. Nugroho
Penerbit : Cinta, Bandung
Cetakan I : Agustus 2006
Tebal : 160 Halaman
Resentator  : Rahmat Hidayat Nasution


Menulis cerpen bagi orang yang belum terbiasa terkadang merupakan hal yang teramat berat dilakukan. Bahkan sebagian orang masih beranggapan bahwa dunia tulis-menulis cerpen adalah dunianya para sastrawan, para pujangga, dunianya orang yang rajin berhayal, dan sebagainya. Namun, sebenarnya siapa pun bisa menjadi cerpenis. Menulis cerpen dapat dilakukan oleh setiap orang dari berbagai kalangan. Bahkan, sudah bukan menjadi rahasia umum bahwa banyak para cerpenis yang sukses bukan berasal dari fakultas sastra.

Buku ini memberikan motivasi dan petunjuk-petunjuk mengawali menulis cerpen hingga cara mempublikasikannya di media masa. Ada beberapa langkah inti yang ditawarkan sebelum menulis cerpen. Pertama, komitmen. Ya, seorang yang ingin menjadi cerpenis harus memiliki niat yang kuat untuk menjadi cerpenis sukses. Tentu saja komitmen itu memiliki konsekuensi. Harus fokus dan rela meluangkan waktu yang mungkin akan mengurangi kesenangan-kesenangan yang lain. Kedua, rajinlah membaca cerpen yang ada di koran atau majalah. Lupakanlah teori-teori ruwet tentang apa dan bagaimana cara menulis cerpen. Karena dengan rajinnya membaca cerpen karya orang lain yang telah dimuat akan memberikan gambaran apa saja syarat dan langkah membuat cerpen. Intinya, jadilah lebih dahulu menjadi pembaca cerpen yang baik. Ketiga, tentukan arah. Setelah menjadi pembaca cerpen yang baik, tentunya memiliki kecenderungan terhadap salah satu jenis cerpen, karena banyak pilihan mengenai cerpen. Ada cerpen romantis, cerpen komedi, cerpen misteri dan cerpen fiksi ilimiah. Semua bebas untuk dipilih. Jika telah memiliki ‘kontak batin’ dengan salah satu jenis, cobalah untuk jujur dan serius menekuni jenis cerpen yang menjadi pilihan.

Jika semua langkah ini sudah dimiliki cobalah untuk menulis cerpen, dan jangan lupa tentukan juga jam kerja untuk menyelesaikan satu cerpen. Untuk pertama kali, cobalah gunakan waktu 10 jam dalam hitungan dua hari untuk menyelesaikan satu cerpen. Misalnya hari jumat depan akan menulis cerpen pukul 7 malam dan berakhir pukul 12 malam dan keesokan harinya menulis lagi selama 5 jam. Ingat, tetaplah berkomitmen untuk menjadi seorang cerpenis sukses. Dengan kerutinan dalam membuat cerpen tidak mustahil jika suatu saat kita dapat menulis satu cerpen dalam tempo 2-3 jam. Bukankah pisau semakin rajin diasah semakin tajam? Demikianlah halnya dengan mangasah diri menjadi cerpenis sukses. Bakat hanya memiliki nilai 1 % selebihnya adalah kontiniutas kita dalam belajar menulis cerpen.

Setelah selesai menulis, apakah langsung mengirimnya ke surat kabar atau tabloid? Menurut penulis buku ini, Donatus A. Nugroho, jangan terburu-buru untuk mengirim, harus sabar sedikit. Seorang cerpenis yang ingin naskahnya dimuat harus bisa menyiasati redaksi. Karena bagian ini penentu dimuat atau tidaknya naskah cerpen yang dikirim. Karena itu, Donatus memberikan ‘bocoran’ untuk bisa ‘merampas’ perhatian redaksi. Yaitu, naskah yang dikirim harus memenuhi kriteria yang diinginkan redaksi; Naskah yang dikirim harus benar-benar sudah ‘matang’ isi dan tata bahasanya; Naskah yang dikirim harus dalam bentuk print-out; Curi perhatiannya dengan judul dan awal cerpen (lead) cerpen yang menteror; Perhatikan misi dan visi media yang bersangkutan. Misalnya majalah Hai adalah bacaan remaja yang usianya 13-17 tahun tahun. Jadi, percuma kalau mengirimkan cerpen bagus yang tokoh utamanya mahasiswa atau karyawan sukses; Sodorkan tema-tema yang unik, yang jarang atau belum pernah diangkat penulis lain; Cobalah untuk aktif menelpon redaksi dan berbicang dengannya untuk menanyakan nasib cerpenmu, atau minta pendapatnya tentang cerpen yang kamu kirimkan.

Buku ini layak dimiliki buat orang-orang yang ingin belajar menulis cerpen dengan hitungan jam, cepat dan tanpa harus masuk kursus dengan biaya melebihi harga buku ini. Apalagi di akhir buku ini diberi hadiah ‘pulpen’ keren, kumpulan cerpen keren. Ada jenis cerpen bertema romantis, jenis cerpen bertema komedi, jenis cerpen bertema misteri, jenis cerpen dengan alur maju, jenis cerpen dengan alur mundur dan jenis cerpen dengan tema yang sederhana. Ya, marilah belajar menjadi cerpenis yang sukses dengan panduan buku yang ditulis Raja Cerpen Remaja Indonesia yang sudah menulis lebih dari 1001 cerpen. Siapa lagi kalau bukan Donatus A. Nugroho! Selamat Belajar dan mengarang cerpen!

Jumat, 22 Juni 2007

Rajam dan Kecemasan Umat Kristen akan Syariat Islam

Judul buku :Rajam Dalam Arus Budaya Syahwat (Penerapan Hukum Rajam di Indonesia dalam Tinjuan Syariat Islam, Hukum Positif dan Politik Global)
Pengarang : Adian Husaini, MA
Penerbit : Pustaka al-Kautsar, Jakarta
Tahun terbit : 2001
Tebal buku : 208 halaman

Lagu lama. Itulah yang dapat dikatakan ketika membaca berita yang dimuat di harian Republika (17/5/2006) tentang protes salah seorang anggota DPR dari partai PDS (Partai Demokrat Sejahtera), Konstan Ponggawa, terhadap pemberlakuan sejumlah perda yang bernuansa syariat Islam. Tuntutan tersebut tak lain akan berbuntut pada mempersoalkan pemberlakuan syariat Islam. Terlebih lagi, hampir finalnya pengesahan RUU anti Pornografi dan Pornoaksi yang sangat diharapkan oleh sebagian umat Islam Indonesia. Ketakutan dan kecemasan kian akan menyelimuti kaum Kristen di Indonesia sejengkal demi sejengkal.

Kecemasan dan ketakukan mereka tersebut sebenarnya telah lama, dan bahkan sejak awal Indonesia merdeka. Sebuah buku yang ditulis oleh seorang ‘makmum’ bangsa dengan tebal 208 halaman akan menyeguhkan bukti-bukti kecemasan mereka dengan dalil-dalil yang akurat. Buku tersebut cukup fantastis, karena akan membuat pembacanya ‘tercengang-cengang’ melihat kecemasan kaum Kristen dan penolakan oleh sebagian orang yang mengaku muslim namun menolak syariatnya. Buku itu bertorehkan judul Rajam Dalam Arus Budaya Syahwat (Penerapan Hukum Rajam di Indonesia Dalam Tinjauan Syariat Islam, Hukum Positif dan Politik Global)

Bila dilihat dari sejarah buku, tulisan-tulisan di dalamnya, memang, lebih terfokus pada tanggapan Adian Husaini, MA sebagai penulis terhadap peristiwa penangkapan Ja’far Umar Thalib, dengan tuduhan melakukan tindakan anarkis terhadap pelaksanaan hukum rajam terhadap Abdurrahim. Namun, bila dipahami maksud yang tersirat dari buku ini, isinya cenderung mengajak pembacanya untuk menilai seperti apa sebenarnya penegakan syariat Islam, di samping menyuguhkan bacaan yang membuktikan ketakutan kaum Kristen di Indonesia bila tegaknya syariat Islam di Indonesia.

Buku yang diselesaikan dengan tempo sepuluh hari ini terbagi menjadi empat Sub judul. Yaitu, Rajam digugat, Jihad dihambat; Wabah zina dalam budaya syahwat; Hukum rajam dalam tinjauan syariat Islam dan konteks Indonesia; Dan Syariat Islam versus imperialis Kristen Barat.

Dalam bagian Sub judul pertama, Adian Husaini memamparkan kronologis pelaksanaan hukum rajam terhadap Abdurrahim dan penangkapan Ja’far Umar Thalib. Berdasarkan data-data yang di dapat, terbukti bahwa pelaksanaan rajam terhadap Abdurrahim bersumber dari dirinya sendiri, tanpa ada paksaan pihak lain. Karena merasa telah berdosa melakukan perbuatan zina, Abdurrahim datang menyerahkan dirinya dan meminta dijatuhi hukum rajam. Ia rela tubuhnya ditanam sebatas dada dan kemudian siap menerima lemparan batu ke kepalanya, sampai ajal menjemputnya. Seminggu setelah penerapan hukum rajam terhadap Abdurrahim, Ja’far Umar Thalib pun ditangkap polisi ketika transit di bandara Juanda, Surabaya, saat ia dan teman-temannya akan melakukan perjalanan dari Yogyakarta ke Makasar. Pengkapan Ja’far Umar Thalib terkesan tidak proporsional dan kurang beretika, karena surat penangkapannya bukan dalam bentuk teks asli, tapi dalam bentuk kertas kopian faks. Dan akhirnya penangkapan tersebut melahirkan aksi protes dari umat Islam bukan hanya dari daerah Maluku saja, namun dari seluruh daerah di Indonesia (hal. 3-9).

Selanjutnya, Pada Sub judul “Wabah Zina dalam Budaya Syahwat”, Adian Husaini mengupas penyebab begitu bebasnya sex di Indonesia. Menurutnya, penyebab bebasnya sex di Indonesia dikarenakan terlalu senangnya bangsa ini melestarikan KUHP warisan kolonia belanda, yang menyebutkan bahwa mereka yang telah terikat dengan perkawinan yang bisa disebut pelaku zina. Hukumannya pun maksimal hanya sembilan bulan. Itu pun hanya merupakan delik aduan, artinya harus ada pengaduan dari pihak suami/isteri (pasal 284 KUHP). Jadi, tampak jelas bahwa orang Indonesia begitu ‘remehnya’ menilai praktek perzinaan. Kejahatan kelas ‘kakap’ dihadapan Allah ini dinilai sebagai persoalan ‘sepele’. (hal. 46)

Oleh karena itu, dalam buku ini, penulis tak bosan-bosan mengajak kaum Muslimin melaksanakan gerakan amar ma’ruf nahi munkar. Karena banyaknya redaksi hadits Rasulullah Saw. menceritakan akan datangnya azab Allah jika praktik-praktik kemungkaran dibiarkan merajalela dan kaum Muslimin tidak melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Salah satu redaksi hadits Rasulullah Saw. tersebut, “Apabila perzinaan dan riba telah melanda suatu negeri, maka penduduk negeri itu telah menghalalkan turunnya azab Allah atas mereka sendiri (HR. Thabrani dan Hakim).

Kemudian, yang paling menarik dalam buku ini tentang permasalahan rajam adalah, siapa yang berwenang melaksanakan Rajam? Dan inilah inti permasalahan dalam kasus diadilinya Ja’far Umar Thalib. Selama ini, kita sering mendengar bahwa hukum rajam hanya boleh dilakukan oleh penguasa. Itu pun tidak boleh sembarang penguasa, harus penguasa muslim dan pemerintahan Islam. Adian Husaini telah menemukan dalam kitab al-Majmu’ al-Fataawa Jilid XXIV (kitab al-Huduud) karangan Ibnu Taimiyah, bahwa huduud harus tetap diberlakukan oleh kaum muslimin, dalam keadaan apapun. Baik saat kepemimpinan itu dipimpin oleh khalifah atau di saat umat Islam terpecah-pecah dalam berbagai negeri atau jamaah, dengan syarat memperhatikan juga faktor “mafsadat” yang mungkin muncul akibat penarapan hukum huduud tersebut, di saat pemerintah tidak menerapkan hukum tersebut. Sehingga, Adian Husaini berasumsi bahwa inilah dasar pelaksaan hukum rajam terhadap Abdurrahim yang dilakukan oleh kelompok Laskar Jihad. Dengan pendapat Ibnu Taimiyah tersebut, menurut Adian, bahwa kaum Muslimin seyogyanya memikirkan penerapan hukum Islam dalam tiga level: individual, komunal dan negara (state). Pada level komunal itulah –sesuai pendapat Ibnu Taimiyah—hukum huduud memungkinkan untuk diterapkan. Dengan catatan, bahwa faktor ‘mafsadat’ yang mungkin muncul akibat hukum huduud tersebut tetap menjadi perhatian. Jangan sampai penerapan huduud malah akan menimbulkan kemudharatan yang lebih besar bagi kaum muslimin.

Bagaimana reaksi kaum Kristen jika syariat Islam diterapkan? Sub judul terakhir, yaitu “Syariat Islam Versus Imperialisme Kristen Barat”, mengupas “habis” segala kecemasan dan ketakutan umat Kristen bila syariat Islam dilaksanakan. Ternyata, ketakutan bila terealisasinya syariat Islam menjadi “bencana” besar bagi seluruh umat Kristen. Karena akan dapat mengancam dominasi barat. Salah satu contoh ketakutan Barat tersebut dapat dilihat dalam kasus Sudan. Ketika pemerintahan Sudan dibawah kekuasaan Ja’far Muhammad Nimeiri, syariat Islam merupakan landasan hukum negara. Sudan, ketika itu, tak henti-hentinya menjadi sorotan dan tindakan keras AS. Bantuan AS sebesar 114 juta dolar AS pun diputus dan bekerjasama dengan IMF dalam menekan Sudan agar melakukan pembaruan dalam bidang ekonomi. (hal. 162-163). Sedangkan di Indonesia, ketakutan kaum Kristen bertolak dari Piagam Jakarta. Mereka dengan emosional dan membabi buta dalam melakukan penolakan, sehingga apa pun yang ‘berbau’ Piagam Jakarta selalu ditolak mentah-mentah. Itu bisa dilihat dalam kasus penolakan terhadap RUU Peradilan Agama (RUUPA) tahun 1989 dan juga RUU Pendidikan Nasional yang mewajibkan pendidikan agama bagi seluruh siswa oleh pihak kristen. (hal. 173-174)

Buku ini sangat penting untuk dibaca, karena akan mampu menghilangkan keraguan atau pemahaman kita yang salah tentang “mandulnya” penerapan syariat Islam bila diterapkan di Indonesia. Paling tidak, kita dapat mengetauhi refleksi kritis seorang ‘makmum’ bangsa terhadap hukum yang berlaku di negaranya.

Rahmat Hidayat Nasution